Bekal Sang Pekerja

Pewartaan dalam dunia digital bukanlah sebuah proses instan. Proses saya bergulat dengan seni rupa sebagai sarana pewartaan sudah dimulai sejak saya masuk Seminari Menengah. Di kemudian hari, media sosial menjadi galeri dari hasil proses tersebut. Mengunggah gambar dan renungan dalam platform media sosial adalah satu hal. Membuat gambar dan renungan tersebut adalah hal lain. Ada yang mengusulkan agar saya membuat renungan bergambar tersebut setiap hari, tetapi tidak semudah itu keadaannya. Untuk mengunggah sebuah renungan dan gambar memang hanya butuh beberapa menit, tetapi dibutuhkan waktu satu minggu untuk membaca, berefleksi, mencari referensi, menggambar, serta menuliskan renungan tersebut. Setiap unggahan (posting-an) yang baik butuh waktu persiapan yang matang pula.

Ibarat seorang pekerja panenan yang mesti membawa bekal agar tidak kelelahan dalam bekerja, kita pun mesti membawa bekal bila ingin bekerja dalam ladang digital yang luas dan riuh. Bekal tersebut adalah refleksi pribadi atas pengalaman hidup sehari-hari, referensi-referensi, dokumen Gereja dan buku bacaan rohani, serta pengalaman religius pribadi dalam doa-doa kita. Ringkasnya, untuk melayani mereka yang haus akan literatur rohani, kita pun harus terus mengisi diri dengan “membaca”, baik membaca buku maupun pengalaman. Syukurlah bahwa di Seminari Menengah tempat saya berkarya saat ini, ada kesempatan menemani seminaris untuk menikmati bacaan rohani sehingga saya pun memiliki waktu rutin untuk menambah bacaan rohani. Tanpa bekal yang melimpah dan selalu update tersebut, kita akan mudah kelelahan dan putus asa. Renungan-renungan serta gambar yang diunggah pun akan terasa kering dan hambar.

Saya cukup senang melihat banyak rohaniwan, biarawan-biarawati, dan para frater yang saat ini sudah ikut menjadi pewarta dalam dunia digital. Akan tetapi, kita tetap harus belajar dengan rendah hati kepada umat awam yang sering kali lebih profesional dalam mengelola sebuah akun Katolik. Akun-akun tersebut hendaknya bukan menjadi sekadar sarana curhat atau pewartaan diri pribadi, melainkan sebagai sarana pewartaan Injil. Popularitas—yang dilihat secara sempit pada jumlah followers atau likes—memang meng­goda. Akan tetapi, saya yakin mereka yang siap mewartakan Injil sudah bisa lepas bebas dari godaan-godaan remeh semacam itu.

 

Bayu Edvra Paskalis, Pr

Pamong Seminari Menengah St. Petrus Canisius Mertoyudan

 

">


Majalah ROHANI

Ladang yang Terabaikan


SILAHKAN BERI KOMENTAR

KOMENTAR TERBARU